By Socrates- Batam kota pulau yang berkembang pesat. Kebutuhan air bersih, meningkat cepat. Akibatnya, krisis air bersih mengancam warga Batam yang mengandalkan waduk tadah hujan ini. Kambing hitamnya, kemarau yang menyebabkan elevasi air waduk menyusut.
Beberapa kali, terjadi demonstrasi dari warga yang tidak puas dengan pelayanan air bersih. Misalnya, aksi unjuk rasa warga Tanjunguncang terhadap PT Air Batam Hilir (ABH) di kantor BP Batam pada 18 September 2024. Ratusan warga Tanjung-sengkuang, Batuampar juga melakukan aksi unjuk rasa ke Kantor DPRD Kota Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam, tanggal 22 Januari 2026 karena suplai air bersih sudah setahun ngadat. Solusi mengirim air dengan mobil tangki, dianggap tidak menyelesaikan masalah.
Mengapa Batam terancam krisis air bersih? Batam punya tujuh waduk. Semuanya tadah hujan. Kalau curah hujan rendah, musim kemarau seperti saat ini, air waduk pun menyusut. Biasanya, curah hujan rata-rata 150 mm, belakangan hanya 50 mm sampai 100 mm saja. Tahun 1997 terjadi krisis air bersih yang parah di Batam. Lalu, krisis terulang lagi tahun 2015. Yang jadi tertuduhnya, dampak El Nino.
Mari kita lihat kondisi tujuh waduk yang menjadi sumber air baku warga Batam. Dam pertama di Batam adalah Dam Baloi, yang dibangun Otorita Batam tahun 1977. Dam ini menjadi sumber air bersih bagi warga Pelita, Jodoh dan Nagoya. Tahun 2012 dam ini stop beroperasi karena tercemar deterjen, kromium, kadmium, dan timbal alias logam berat yang terlampau tinggi. Permukaan dam tertutup eceng gondok.
Tahun 1978, Otorita Batam membangun dua dam sekaligus. Dam Sei Harapan untuk suplai kawasan Sekupang serta Dam Nongsa menyuplai air bersih untuk kawasan Batubesar. Tahun 1985, Otorita Batam membangun dam keempat, yakni Dam Sei Ladi. Tahun 1989 dibangun lagi waduk kelima yakni Dam Mukakuning dan mulai beroperasi tahun 1991.
Tahun 1992, perencanaan pembangunan waduk keenam, yakni Dam Duriangkang dimulai. Direncanakan selesai tahun 1995 tapi molor sampai tahun 1997. Dam Duriangkang dioperasikan pada 2001 setelah dibangun Instalasi Pengolahan Air (IPA) Tanjung Piayu.
Dam Duriangkang dam terbesar di Batam. Saat ini, Dam Duriangkang menyuplai 70 persen kebutuhan air bersih warga Batam. Dam Duriangkang merupakan dam estuari terbesar di Indonesia. Dam estuarasi adalah jenis bendungan semi-tertutup yang dibangun di wilayah pesisir tempat bercampurnya air tawar dari daratan dan air laut. Lalu diproses melalui teknologi desalinasi untuk diubah menjadi air bersih, terutama bertujuan mengatasi krisis air.

Dam ketujuh adalah Dam Tembesi yang dibangun sejak tahun 2008 dan baru digunakan tahun 2020 dan mengalirkan air baku ke Dam Mukakuning. Kapasitasnya 600 liter perdetik. Dam Tembesi juga merupakan dam estuarasi.
Bagaimana kondisi waduk-waduk sumber air bersih bagi warga Pulau Batam yang terus meningkat? Dam Baloi sudah ditutup dan tercemar. Permukaan dam tertutup eceng gondok. Sekeliling dam dipenuhi rumah liar yang merusak daerah tangkapan air.
Dam Sei Harapan dan Dam Nongsa, kapasitas tampungnya turun 30 persen. Sejak dibangun, dam ini belum pernah dikeruk dan semakin dangkal. Dam Mukakuning airnya terus menyusut dan harus mendapat suplai dari Dam Tembesi.
Dam Duriangkang juga mulai terancam. Ada sekitar 180 hektare yang sudah tertutup oleh eceng gondok. Permukaan air waduk terbesar di Batam ini juga mulai turun. Memang, ada upaya mengatasi eceng gondok di dam Duriangkang dengan cara gotong royong. Tapi, tampaknya tidak cukup. Apalagi, tidak dilakukan secara rutin.
Mantan Walikota Batam dan Kepala BP Muhammad Rudi pernah mengadakan gotong royong membersihkan tumbuhan eceng gondok di Dam Duriangkang, 28 November 2019 yang diikuti 1.000 personil. Deputy Pelayanan Umum BP Batam juga mengadakan kegiatan gotong royong di waduk Duriangkang, 22 November 2025 membersihkan eceng gondok yang memenuhi waduk. Cukup? Belum.
Penduduk Batam terus bertambah. Tahun 1970 penduduk Batam 6.000 jiwa. Tahun 1980 melonjak menjadi 47.000 jiwa hampir 8 kali lipat. Tahun 1990 penduduk Batam 135.000 jiwa. Tahun 2000 naik lagi menjadi 455.000 jiwa. Tahun 2010 jumlah penduduk Batam 949.000 jiwa. Dan tahun 2020 menjadi sebanyak 1.196.000 jiwa. Dalam tempo 50 tahun, penduduk Batam naik 199 kali lipat! Jumlah penduduk Batam semester pertama tahun 2025 saja mencapai 1.365.266 jiwa.
Menurut mantan Direktur Utama PT Adhya Tirta Batam (ATB) penyebab krisis air di Batam karena Batam mengalami defisit air baku. ‘’Saya baca berita tentang krisis air di Batam. Zaman saya tahun 2020 saja, kapasitas air sudah pas-pasan. Tambah kapasitas air dari Dam Tembesi 600 liter/detik tapi kebocoran air naik dari 14 persen jadi di atas 20 persen. Habis sudah. Apalagi, penduduk bertambah,’’ tulis Beny di akun media sosialnya. Ia memperkirakan, defisit air baku bisa mencapai 500 liter/detik.
Mari kita lihat pertambahan jumlah pelanggan air bersih. Mulai dari dikelola ATB, Moya dan ABH. Tahun 2020 jumlah pelanggan ATB 228.900 pelanggan, yakni 196.000 pelanggan domestik, 2.900 pelanggan industri dan 30.000 pelanggan komersil.
Ancaman krisis air ini sangat terasa, ketika ATB merencanakan suplai air bersih digilir alias rationing. Warga beramai-ramai memburu drum dan tong untuk menyimpan air.

Jumlah pelanggan air bersih SPAM di Batam yang kini dikelola BP Batam dan mitra pada Juni 2024 mencapai sekitar 317.000 pelanggan. Angka ini meningkat dari tahun 2021 yang tercatat sekitar 280.000 pelanggan. Peningkatan ini menyebabkan defisit air sekitar 300 liter per detik hingga pertengahan tahun 2024.
Kerusakan lingkungan akibat pembabatan hutan, pembalakan liar, tambang pasir ilegal, pemberian alokasi lahan perumahan dekat waduk sehingga tercemar limbah rumah tangga, ketidakpedulian masyarakat terhadap lingkungan dan daerah tangkapan air (cachtment area) menjadi daftar panjang, menurunnya kuantitas dan kualitas air baku di Batam.
Sedimentasi juga berpengaruh terhadap operasional dan umur berfungsinya waduk. Kapasitas tampung waduk akan berkurang dengan adanya sedimentasi. Penyebabnya antara lain, erosi dan ekploitasi lahan di kawasan tangkapan air. Â Laju erosi di sejumlah waduk disebabkan antara lain, alih fungsi lahan, hutan yang berubah menjadi kawasan pemukiman, atau areal pertanian tanaman semusim seperti sayuran di tepi waduk.
Lalu, apa solusinya? Menjaga waduk sebagai sumber air baku untuk seluruh konsumen adalah tanggung jawab BP Batam. Sebab, BP Batam menerima pendapatan dari penjualan air baku. Siapapun operatornya, mau ATB, Moya, ABH atau perusahaan air bersih kaliber dunia pun, tidak akan ada artinya, tanpa ketersediaan air baku yang cukup. Kalau air baku tidak ada, sama saja seperti rumah tangga yang tidak punya beras.
Tanggal 15 November 2020 pengoperasian dan penyelenggaran Sistem Pengelolaan Air Minum, diserahkan kepada PT Moya Indonesia, yang dipilih BP Batam sebagai mitra. Operator air bersih di Batam sudah berganti. Namun, ada 2.700 pelanggan berada di titik kritis, tidak mendapat suplai air bersih 24 jam.
PT Air Batam Hilir merupakan konsorsium dua perusahaan PT PP (Persero) Tbk dan PT Moya Indonesia. Perusahaan ini berperan sebagai operator dan pemelihara Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Batam selama 15 tahun ke depan. Sejak diambil alih oleh PT Air Batam Hilir pada 1 Agustus 2022, kualitas layanan air di Batam dinilai menurun drastis.
Mari berkaca pada daerah sekitar Batam. Misalnya, Ibukota Kepri Tanjungpinang. Air sering mati, Begitu juga di Pekanbaru, Ibukota Riau. Airnya kuning dan berbau. Contoh yang paling baik tentu saja Singapura. Negara jiran itu juga tidak punya sumber mata air alami dan mengandalkan air hujan, memiliki empat cara mengelola air bersih. Yakni, daur ulang air limbah yang mereka sebut NEWater, mengolah air laut menjadi air tawar atau desalinisasi, memanfaatkan resapan air dan disimpan di 17 reservoir serta impor dari Malaysia selama 50 tahun.
Revitalisasi waduk adalah harga mati untuk masa depan Batam. Antara lain, mengeruk bagian yang dangkal, memasang sediment trap untuk menjaga pencemaran dan air yang masuk tidak membawa pasir dan lumpur serta menjaga daerah tangkapan air dari penebasan hutan, perkebunan dan keramba ikan. Yang paling utama adalah, memulai gerakan hemat air dan menjaga waduk sebagai sumber air bersih kita.
Melibatkan partisipasi masyarakat, terutama yang mendapat suplai air dari waduk terdekat, seperti warga Sekupang, Tiban untuk dam Sei Harapan, warga Batubesar untuk dam Nongsa, warga Tanjungpiayu, Batam Centre untuk dam Duriangkang, bersama-sama merawat, menjaga waduk-waduk tersebut.
Partisipasi ini bisa berupa gotong royong, gerakan penghijauan, pembersihan enceng gondok secara rutin, dan pemeliharaan catchment area (daerah resapan air). Gerakan hemat air, mau tidak mau, harus digalakkan. Tidak satupun dari ribuan baliho, spanduk, videotron atau sarana promosi lainnya yang mengajak warga kota ini hemat air. Kalah dengan baliho para politisi yang mempromosikan diri. Kini, baliho itupun dirobohkan, tidak bersisa satu pun. Mungkin perlu dua mik untuk bicara kepada warga. ***


