20.6 C
Indonesia

Amat Tantoso

-

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër

By Socrates – Amat Tantoso alias Tan Sui Hai, lahir 5 September 1967 di Sawang, Kundur, Kabupaten Karimun. Ia biasa disapa Ahai.

Saat masih remaja usia 16 tahun, ia mengadu nasib ke Batam, bekerja di toko sembako. Setelah menikah, ia sempat pulang kampung meneruskan usaha toko kelontong orang tuanya. Tahun 1992 ia dan keluarganya kembali lagi ke Batam.

Bisnisnya pertama kali di Batam, jualan air tebu. Amat membeli dan menebang sendiri tebu ke Batuaji. Tangannya gatal-gatal. Amat punya 12 mesin penggiling tebu. Ia pasok tebu dari Tanjung-batu dan Tembilahan.

Amat buka kedai kopi. Ada resep tertentu, kopi dicampur mentega. Cangkirnya harus tebal, direbus. Air harus mendidih. Inilah rahasia jualan kopi. Ia mengelola pasar Pujabahari. Separuh lapak pasar disewanya, lalu disewakan lagi.

Amat kerja serabutan. Jual air tebu, kedai kopi, makelar lapak di pasar, menyusun uang basah dan berdarah, disetor ke bank. Amat melayani  yang butuh dolar atau rupiah, Amat  jadi orang tengah. Inilah cikal bakal bisnis valuta asingnya. Ia membuka money changer. Namanya Hai-Hai. Ia dapat untung dari selisih kurs.

Awalnya, Amat Tantoso jadi makelar atau calo valuta asing. Apalagi, pabrik makin banyak dan perdagangan ekspor impor makin berkembang. Warga Batam yang bertetangga dengan Singapura dan Malaysia, sangat familiar dengan mata uang dolar Singapura dan Ringgit Malaysia.

Tak puas menjadi makelar, Amat Tantoso nekad membeli mata uang dolar Amerika dan dolar Singapura untuk diperjualbelikan dengan tujuan mencari capital gains dari selisih kurs. Ternyata, jual beli valas yang dilakoni lelaki yang bernama Tan Sui Han ini berkembang pesat dan ia mulai membuka money changer.

Krisis moneter yang terjadi 1998 malah membuat money changer Amat Tantoso makin berkembang. Fluktuasi kurs mata uang sehingga bisnis valuta asing menguntungkan. Gejolak mata uang bisa mencapai 400 poin dalam sehari. Dengan kegigihan dan ketekunannya, Amat Tantoso menjadi pengusaha valuta asing. Ia memutuskan berhenti berjualan air tebu dan warung kopi yang dilakoninya selama tiga tahun.

Amat Tantoso mulai dikenal publik secara luas tahun 2000 sejak money changernya dirampok. Uang tunai Rp300 juta digasak rampok. Satpam pemberani yang bekerja di money changer Amat Tantoso bernama Jhon Roma, tewas ditembak perampok. Sampai sekarang, setiap tahun Amat selalu berziarah ke kuburan Jhon Roma.

Saat bisnis Amat Tantoso berkembang, cobaan datang lagi. Ia ditangkap polisi. Tuduhannya, menggelapkan pajak. Amat ditahan di Mabes Polri, Oktober 2005. Direktur Utama PT Putra Kundur Valasindo itu didakwa melanggar aturan tata cata perpajakan. Saat itu, Amat Tantoso juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Valuta Asing Batam.

Pengadilan Negeri Batam menghukum Amat Santoso dua tahun penjara, yang dijalaninya sejak 28 Februari 2006 dan mendekam di balik jeruji rumah tahan dan lembaga pemasyarakatan Kelas II A Batam. Rumah tahanan memberi pelajaran berharga bagi Amat Tantoso. Ia menjadi lebih religius dan memperhatikan keluarga.

Banyak orang mengira, perjalanan bisnis Amat Tantoso bakal tamat.  Namun, perlahan tapi pasti, Amat Tantoso bangkit lagi. Setelah menjalani masa hukumannya di penjara, bisnis Amat Tantoso menggeliat lagi.

Jatuh bangun kehidupan dan pasang surut bisnisnya tidak membuat Amat Tantoso patah semangat. Pelan tapi pasti, usahanya kembali bersinar. Bagi Amat Tantoso, peluang tidak boleh dilepaskan.

Orang-orang yang mengenal Amat Tantoso secara dekat, sudah hapal kebiasaan Amat Tantoso yang satu ini. Teleponnya seperti tidak pernah berhenti berdering. Di kantornya di kawasan Nagoya, dua pesawat telepon manual, secara bergantian ditempelkan ke telinga kiri dan kanan. Pesawat teleponnya tiga dan handphone-nya juga tiga. Matanya selalu tertuju ke monitor yang menggambarkan pergerakan mata uang di seluruh dunia.

Tidak heran, bisnisnya terus menggeliat. Amat Tantoso memiliki belasan gerai money changer dengan nama Hai-Hai dan kini beranak pinak jadi 20 cabang di seluruh Kepulauan Riau. Pada Agustus 2016 Amat Tantoso dipercaya menjadi Ketua Umum APVA Indonesia, yang beranggotakan 1.043 money changer.

Namun, lagi-lagi Amat Tantoso tersandung kasus hukum. Tanggal 8 Juni 2016, Amat Tantoso membuat geger warga Batam. Amat yang geram dengan ulah tiga warga Tiongkok yang menghipnotis dan menipu di money changer miliknya, Amat menangkap sendiri pelaku penipuan itu sambil mengacung-acungkan pistol.

Aksi koboi Amat Tantoso itu direkam video dan tersebar dengan cepat. Ketiga pelaku penipuan warga Tiongkok itu ditangkap polisi. Amat Tantoso yang memiliki senjata berpeluru karet itu, juga diperiksa polisi, sepekan setelah kejadian. Pistol Amat Tantoso disita polisi.

Belakangan, bisnisnya tidak hanya money chager, tapi juga berkembang ke bisnis perdagangan mobil, perbankan, properti dan perhotelan. Pada Desember 2016, Hotel Vanila milik Amat Tantoso di Jalan Pembangunan VI Penuin, diresmikan. Hotel yang sempat menuai kontroversi ini, dituding melanggar row jalan. Namun, belakangan, sekitar 1 meter trotoar yang dianggap melanggar aturan itu, dibongkar.

Warga Batam dan kalangan pengusaha, terkejut saat mendengar kabar Amat Tantoso menikam Hong Koon Chen alias Kelvin Hong, warga negara Malaysia, di restoran Wey-Wey Harbour Bay, sekitar pukul 18. 57 malam tanggal 10 April 2019.

Restoran Wey-Wey heboh. Korban dilarikan ke rumah sakit. Sebilah pisau menancap di perut sebelah kirinya. Sedangkan Amat Tantoso menyerahkan diri ke kepolisian. Dua hari kemudian, Amat Tantoso ditetapkan sebagai tersangka.

Apa latar belakang perseteruan Amat dan Kelvin? Mengapa Amat nekat menikam korban di tempat umum? Dari persidangan terungkap, saat mengaudit keuangan perusahaan, ternyata ada aliran dana yang ditransfer Mina -orang kepercayaan Amat Tantoso—kepada Kelvin Hong, atau ke rekening orang lain, atas permintaan warga Malaysia ini. Amat terkejut saat mengecek laporan keuangan perusahaan.

Ternyata, sebagian besar dananya, ada di tangan Kelvin Hong. Jumlahnya Rp30 Miliar. Apong alias Mina melapor, cek senilai Rp7 Miliar yang semula untuk membayar utang, belum ditandatangi Kelvin. Amat menelepon Kelvin dengan memakai ponsel Apong, memintanya datang ke money changer Hosana Exchange, tapi Kelvin menolak. Namun, warga Malayasia itu menyebutkan, posisinya sedang di restoran Wey-Wey, Harbour Bay.

Singkat cerita, Amat bersama dua temannya, istrinya Cie Eng serta Apong alias Mina, pergi ke Wey-Wey menjumpai Kelvin Hong. Meski ditawari makan, Amat langsung ke inti persoalan. Ia meminta Kelvin meneken cek senilai Rp7 Miliar. Tapi, Kelvin menolak. Suasana mulai panas.

Karena Kelvin menolak meneken cek, Amat meminta paspor Kelvin. Lagi-lagi Kelvin menolak. Menurut pengacara Amat, Kelvin melemparkan saos kepiting ke Amat Tantoso. Emosi Amat memuncak. Ia mendatangi Kelvin dan menikamkan sangkur ke tubuh pria berbadan gempal itu.

Serangan itu ditangkis Kelvin. Keduanya terjatuh dan Amat menikam pinggang kiri Kelvin sehingga luka robek. Kelvin yang berlumuran darah lalu dilarikan ke rumah sakit Elizabeth Baloi.

Kelvin dirawat selama 4 hari. Kondisinya sempat kritis dan dioperasi. Empat hari dirawat, Kevin keluar dari rumah sakit. Pihak Rumah Sakit Elisabeth mengaku mengizinkan Kelvin keluar dari rumah sakit setelah kondisinya dinyatakan stabil.

“Kondisinya bagus, stabil, sudah dilakukan tindakan, dia juga melewati masa kritisnya. Kalau dari indikasi medis sudah boleh pulang,” ujar Dr. Freddy Damanik yang menangani Kelvin di RS Elisabeth.

Dalam kasus utang piutang dan berujung penikaman ini, Amat Tantoso jadi tersangka setelah menyerahkan diri ke polisi, sementara Kelvin saksi korban dan saksi mahkota. Namun, tidak diketahui dengan pasti, apakah Kelvin sengaja kabur dan kembali ke negaranya Malaysia atau sengaja disuruh menghilang oleh pihak-pihak tertentu. Konsulat Malaysia sempat menjenguk Kelvin saat dirawat di rumah sakit.

Faktanya, Kelvin tidak pernah hadir di persidangan. Sidang ditunda sampai tiga kali.Kuat dugaan, Kelvin kabur ke negaranya, Malaysia. Kejaksaan mengirim utusan ke Konsulat Malaysia di Pekanbaru, berupaya menghadirkan Kelvin, saksi korban dan saksi mahkota, kelahiran Melaka, Malaysia itu.

Amat Tantoso juga melaporkan balik Kelvin Hong yang dengan tuduhan penipuan dan penggelapan. Polresta Barelang juga telah menetatkan Kelvin masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dan meminta bantuan Interpol.

Berapa kerugian yang dialami Amat Tantoso sehingga ia nekad menikam Kelvin Hong? Semula, disebut-sebut Amat Tantoso rugi Rp7 Miliar, seperti nilai cek yang ditolak ditandatangani Kelvin Hong. Belakangan, nilai kerugian melonjak menjadi Rp30 Miliar. Namun, pengakuan Amat Tantoso,ia menderita kerugian hampir Rp100 miliar!

Dalam persidangan terungkap, Mina alias Apong, orang kepercayaan Amat Tantoso, tidak hanya mentransfer uang kepada Kelvin, tetapi juga kepada Yuwangki. Siapa Yuwangki? Pengusaha yang jarang muncul ke publik ini, salah satu pemegang saham Diskotek Planet dan pemilik Sport Massage. Yuwangki berang karena namanya disebut-sebut Mina di Pengadilan.

Entah seperti apa akhir cerita kasus Amat Tantoso. Yang jelas, ia dituntut empat bulan penjara. Sedangkan Kelvin Hong tidak diketahui batang hidungnya. Yang jelas, warga Malaysia itu, sudah dimasukkan ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Polresta Barelang.

Dari jualan air tebu, buka warung kopi, jadi calo dan makelar mata uang asing, buka money changer, Amat Tantoso meraih sukses dalam perjalanan bisnisnya. Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Asosiasi Pedagang Valas Asing (APVA) Batam.  Puncaknya, pada 14 Agustus 2016, Amat Tantoso terpilih sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVA) Indonesia periode 2016-2020 yang beranggotakan 1.043 money changer.

Sebenarnya, sebagai orang nomor satu di Indonesia memimpin organisasi pedagang valuta asing, Amat tahu benar, banyak masalah yang harus dibenahi. Antara lain, kasus penipuan dan hipnotis, transaksi illegal, money laundering atau pencucian uang hingga transaksi yang melibatkan jaringan mafia internasional.

Jumlah money changer di seluruh Indonesia saat ini mencapai 2.034 buah. Berdasarkan data APVA Indonesia, 612 buah money change belum memliki izin alias ilegal. Kepulauan Riau sendiri, memiliki 164 buah money changer, urutan ketiga setelah Bali dan Jakarta.

Modus penipuan lain yang tengah marak melanda money changer adalah praktik curang penukaran valuta asing dengan menggunakan aplikasi We Chat dengan menggunakan barcode, yang merugikan money changer resmi dan punya izin dari Bank Indonesia.

Praktik illegal yang dilakukan adalah dengan mekanisme transfer antar akun WeChat Pay di China. Uangnya tidak masuk ke Indonesia, tetap berada di China dengan menggunakan mata uang Yuan lantaran merchant di negara tirai bambu itu membawa mesin Electonic Data Capture dan bertransaksi disana. Selain itu, money changer liar dan illegal, ditengarai dimanfaatkan untuk kejahatan pencucian uang, jual beli narkoba serta kegiatan terorisme internasional.

Ironisnya, beberapa bulan sebelum Amat Tantoso dikerjai Kelvin Hong melalui Mina alias Apong, orang kepercayaan Amat Tantoso, kepada wartawan Amat Tantoso mengungkapkan, agar para pengusaha money changer lebih proaktif.

‘’Setiap perusahaan money changer harus Know Your Costumer (KYC) atau mengenali costumernya dengan baik. Jika menemukan segala sesuatu yang mencurigakan, hendaknya melapor ke Pusat Pelaporan Transaksi Keuangan (PPATK),” kata Amat Tantoso, Rabu  27 Maret 2019. Tak sampai sebulan kemudian, eh malah Amat Tantoso yang tersandung kasus penipuan dan penggelapan.

Meski sudah cukup lama menekuni bisnis money changer, lebih 21 tahun, Amat Tantoso menyadari, bisnis valas beresiko tinggi. Pasalnya,fluktuasi kurs sangat tergantung situasi ekonomi dan politik suatu negara. Seperti krisis moneter yang pernah terjadi. Dalam sehari, gejolak kurs bisa naik 400 poin. Padahal, dalam situasi normal paling tinggi 100 poin dan dalam kondisi ekonomi stabil, naik turun mata uang hanya berkisar 5 sampai 10 poin.

Bisnis valuta asing memerlukan strategi, kecepatan, ketepatan dan ketelitian, yang diperlukan untuk mengambil keputusan, jual atau beli suatu mata uang. Itu sebabnya, pengusaha valas selalu meng-update informasi dalam dan luar negeri, selalu mengikuti pergerakan mata uang secara real time. Bisnis valkas beresiko tinggi, namun return-nya besar dan likuid.

Karena tingginya resiko di bisnis valutas asing, secara bertahap Amat Tantoso mulai masuk ke bisnis lain dan melakukan diversifikasi usaha. Antara lain, Amat masuk ke bisnis properti  dan bisnis patungan bersama rekan-rekannya sesama pengusaha.

Amat membangun ruko dan pasar. Ia juga ikut sebagai pemegang saham Bank Perkreditan Rakyat (BPR) berbisnis jual beli mobil dan membuka showroom, memiliki beberapa lahan, berpatungan dengan pengusaha lain dalam bisnis kapal ferry antar pulau, dan belakangan terjun ke bisnis perhotelan membangun Vanila Hotel.

Sebagai pengusaha, Amat Tantoso dikenal luas di Batam dan Kepulauan Riau. Ia pernah menerima penghargaan dari Asian Best Executive Award 2004 dari Lembaga Citra Mandiri serta Eksekutif & Pengusaha Indonesia Berprestasi 2001 dari Yayasan Nirwana

Amat Tantoso tergolong orang yang atraktif. Selain mengurus beragam bisnisnya, belakangan ia gemar traveling dan liburan ke berbagai negara bersama keluarganya.

Dari tiga anaknya, yang sulung menjadi dokter, dan putrinya seorang arsitek di Inggris, serta si bungsu yang diarahkan meneruskan jejak Amat Tantoso sebagai pengusaha.

Kepada saya, Amat Tantoso bercerita, betapa kondisi ekonomi Batam sedang susah. Tiga tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Batam memang menurun. Ini tentu saja berpengaruh terhadap kalangan pengusaha, termasuk Amat Tantoso.  Dalam kondisi seperti itu, Amat Tantoso ditipu dan ditelikung orang kepercayaannya.

‘’Saya sekarang lagi susah. Saya sedih karena anak saya yang bungsu rencananya mau menikah Desember 2019 ini. Tapi, ditunda. Mungkin dia malu,’’ katanya.

Dalam akun media sosialnya, Amat Tantoso menulis : Di saat kita dalam kesusahan, ketika itulah kita akan temui siapa sahabat kita yang sebenarnya. Waktu kita susah, kita akan menemukan siapa yang setia. Segalanya pasti ada hikmahnya. ***

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër
Artikulli paraprak
Artikulli tjetër

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

LATEST POSTS

Jefridin

By Socrates – Jefridin lahir di Selatpanjang, 25 Desember 1968. Selatpanjang adalah kota di kawasan pesisir Riau yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Sejak dulu,...

Jumaga Nadeak

By Socrates - Namanya Jumaga Nadeak. Orang biasa memanggilnya Opung. Ia lahir di Tapanuli Utara, 11 Oktober 1957. Sudah enam periode, Jumaga menjadi wakil rakyat....

Afdhalun A Hakim

By Socrates - Ia dokter pertama yang memasang ring di jantung pasien di Batam. Mahasiswa teladan, dokter teladan dan dokter terbaik ini, kini direktur Rumah...

Johanes Kennedy Aritonang

By Socrates - Johanes Kennedy Aritonang lahir tanggal 5 Agustus 1961. Masa kecil dan remajanya, dilaluinya di Pekanbaru. Saat berusia 24 tahun, tahun 1985 ia...

Most Popular

spot_img