20.6 C
Indonesia
BerandaSINGAPORE CORNERMengapa Berobat ke Singapura dan Malaysia?

Mengapa Berobat ke Singapura dan Malaysia?

-

By Socrates – Dalam pidato peresmian rumah-rumah sakit, para pejabat kita sering berkata, agar warga Batam tidak perlu berobat ke luar negeri. Lantas, mengapa warga Batam dan Kepri, terutama kalangan menengah atas, memilih berobat ke Singapura dan Malaysia?

Inilah beberapa alasannya. Pemeriksaan kesehatan atau medical check-up, di Malaysia tuntas dalam satu hari atau one day care. Dokter selalu ada dan stand by di satu rumah sakit, bukan praktek di beberapa tempat.

Teknologi kedokteran di negara jiran itu, selangkah lebih maju daripada Batam dan negara lain. Sehingga, dengan teknologi canggih, pengobatan menjadi lebih efektif dan efisien. Komunikasi antara dokter dan pasien, terjalin lebih akrab dan terbuka.

Kedekatan lokasi dan kemudahan akses ke Singapura dan Malaysia dari Batam, tentu saja menjadi faktor pendorong warga Batam berobat ke luar negeri. Malaysia juga memberikan bebas visa bagi pasien asal Indonesia untuk berobat. Selain berobat, pasien juga bisa jalan-jalan ke berbagai obyek wisata.

Alasan yang menyebutkan bahwa biaya berobat di Malaysia dan Singapura lebih murah, sepertinya tidak masuk akal. Sebab, perbedaan kurs mata uang mestinya biaya di negara jiran itu lebih mahal. Pemerintah Malaysia mengeluarkan regulasi menyamakan biaya berobat warga Malaysia dengan negara lain.

Namun, survei Marsh Benefit menyimpulkan, biaya berobat di Indonesia lebih mahal. Per tahun, rata-rata naik 12,6 persen, lebih tinggi dibanding Malaysia 12,5 persen, Singapura 9,1 persen, dan rata-rata Asia 10 persen. Biaya berobat di Indonesia jadi mahal lantaran biaya ruang operasi, ruang rawat inap, merupakan ongkos termahal dalam komponen total biaya pengobatan menjadi 21 persen.

Satu lagi, ternyata pajak alat kesehatan (alkes) di Indonesia sangat tinggi yang diterapkan kepada pedagang besar farmasi dan distributor alat kesehatan. Ini mengerek kenaikan biaya berobat.

Mari kita lihat, apa yang dilakukan rumah sakit di negara jiran Malaysia, seperti Mahkota Medical Centre, di Melaka. Pasiennya tidak hanya dari Batam, tapi juga dari Pekanbaru, Padang dan Medan. Rumah Sakit Mahkota atau dikenal dengan MMC itu, mulai beroperasi sejak September 1994.

Rumah sakit MMC berupa bangunan kembar 11 tingkat dan memiliki 630 tempat tidur, dilengkapi dengan 49 klinik, 9 Intesive Care Unit (ICU) dan 12 kamar operasi. Dokter spesialisnya lengkap. Mulai dari ahli kardiologi, dermatologi dan venereologi, radioterapi dan onkologi (kanker) pembedahan neuro, torasik dan kardiovaskular, ortopedik dan trauma, patologi hingga bedah plastik dan kosmetik.

Rumah sakit ini juga memiliki peralatan diagnostik dan terapi canggih seperti mammografi mendeteksi kanker payudara, endoskopi, fluoroskopi, lithotriptor untuk memecah batu karang, peralatan penyakit jantung, akselerator linier untuk penyakit kanker, Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan pusat pembuatan bayi tabung atau penyuburan secara vitro (IVF).

Visinya jelas. Menjadi Hospital yang Terunggul di Malaysia. Mereka juga gencar berpromosi. Caranya, membuka kantor perwakilan di berbagai kota seperti Pekanbaru, Padang, Jambi dan Jakarta. Marketingnya menggarap kalangan menengah atas, tokoh masyarakat, pengusaha hingga para pejabat, seperti Wali Kota, Bupati dan Gubernur.

Kedatangan pasien dari Batam dan kota-kota lain, tidak saja menambah kocek dan pendapatan rumah sakit, juga ikut menyemarakkan sektor pariwisata. Di sekitar rumah sakit, dibangun hospital hotel dan hostel. Yang sakit satu orang, yang datang satu keluarga. Layanan rumah sakit ini, tidak hanya dokter, peralatan canggih dan perawat yang cekatan.

Tapi juga layanan antar jemput pasien ke pelabuhan dan bandar udara. Gratis. Komunikasi antara dokter dan pasien, hangat, bersahabat dan komunikatif. Semua dokter di Malaysia, tergabung dalam Malaysia Medical Council yang membuat berbagai kebijakan dalam dunia medis dan kebijakan tersebut dijalankan oleh Malaysia Medical Association, organisasi profesi para dokter seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Organiasasi ini sangat ketat dan tegas. Tidak hanya menindak dokter yang lalai dan melakukan mal praktek, mereka juga merespon pengaduan dan keluhan pasien soal layanan dokter. Makin banyak komplain dari pasien, maka makin buruklah reputasi dokter tersebut.

Pelayanan dokter umumnya memuaskan. Tidak ada kesan terburu-buru dan pelit informasi tentang penyakit yang diderita pasien. Keterusterangan dokter, tidak membuat pasien takut dan ragu-ragu, termasuk soal biaya yang dibutuhkan jika diperlukan tindakan operasi.

Ketika ditanya, kenapa tulisan dokter seperti resep selalu jelek? Dokter Sivanesan MBBS M Med Orto hanya tertawa. ‘’Tidak semua tulisan dokter jelek. Malah, resep saya diketik dan diprint sehingga gampang dibaca pasien,” kata dokter bedah tulang itu.

Tidak hanya dokter, perawat, staf administrasi rumah sakit hingga supir, memiliki dedikasi yang tinggi memberikan pelayanan terhadap pasien. Secara berkala, mereka diberi pelatihan tentang costumer service. ‘’Pertanyaan kami adalah, who is the bos? Bos kami yang sebenarnya adalah pasien, bukan pemilik rumah sakit. Jika pasien puas, gaji dan bonus kami bagus,” ujar mereka.

Manajemen yang solid, pelayanan secara menyeluruh dan menganggap pasien sebagai bos, patut ditiru oleh manejemen rumah sakit di Indonesia. Tentu harus ditunjang dengan kecanggihan teknologi dan sumber daya manusia yang profesional.

Yang berobat ke Malaysia tidak hanya orang sakit dan memerlukan perawatan serius, tapi juga orang-orang sehat yang mengecek kondisi kesehatannya di Health Screening Centre. Pemeriksaan kesehatan ini, dibagi dalam tiga paket yang bisa dipilih sesuai kemampuan keuangan pasien.

Mulai dari tes fisik dan cek darah, tes urine, elektrokardiografi, x-ray dada, tread mill, pemeriksaan pap smer, ultrasound abdomen dan pemeriksaan payudara, tes paru-paru serta tes pendengaran dan mata. Jika ada kejanggalan dari hasil tes tersebut, dokter akan merujuk ke dokter spesialis.

Tingginya animo warga Indonesia berobat ke Malaysia, sehingga pemerintah kerajaan Melaka mengembangkan konsep wisata sehat. Yakni, pemeriksaan kesehatan dan pelesiran. Jadi, Malaysia dapat dua. Pasien yang berobat, sekaligus wisatawan dari Indonesia. Tiga rumah sakit ini, menjadi andalan Melaka. Yakni, Mahkota Medical Centre, Rumah Sakit Pantai dan The Southern Hospital Group.

Mahkota Medical Centre memiliki sepuluh Pusat Keunggulan (Centres of Excellence) seperti jantung, penggantian tulang dan sendi, kanker,  kesehatan pria, neurologis dan saraf, kesehatan ibu dan anak, pemeriksaan kesehatan, diabetes, lambung, usus, pencernaan  hati serta pusat emergency dan trauma centre.

Singapura, sama saja. Suka tidak suka, sadar tidak sadar, negara tetangga itu sudah lama mengincar duit orang sakit dari Indonesia, terutama pasien kaya raya. Pelayanan kesehatan canggih dengan tekno-logi modern digabungkan dengan bisnis pariwisata. Jadilah paket wisata sehat. Singapura dan Malaysia, bersaing ketat merebut pasar Indonesia. Sungguh strategi pemasaran yang cerdik.

Tidak hanya berbagai obyek wisata, mal-mal tempat belanja, konvensi dan berbagai festival kelas dunia, Singapura dan Malaysia sejak lama menggarap orang kelas menengah atas di berbagai kota di Indonesia. Apa saja dijual untuk mengincar fulus alias duit. Termasuk mengemas layanan rumah sakit. Mereka gencar mempromosikan dan membidik pasien Indonesia untuk dirawat dan dimanjakan dengan fasilitas rumah sakit, plus jalan-jalan dan bersenang-senang ke berbagai obyek wisata.

Tidak ada gambaran rumah sakit yang seram, kumal dan bau obat-obatan dan aroma amis darah yang membuat orang ngeri dan ketakutan. Yang ada adalah rumah sakit yang bersih, nyaman dengan penataan interior yang menarik. Mulai dari penerimaan pasien, dokter spesialis yang lengkap, dan teknologi terbaru. Mereka bersaing menyehatkan tubuh pasien, menyenangkan hatinya baru mengambil uangnya.

Pasien merasa tak ubahnya berada di hotel berbintang. Bukan hal aneh jika di lobi rumah sakit ditemukan piano. Juga sudah lazim di ruang-ruang tunggu pasien tersedia rak majalah dan buku serta minum teh atau kopi gratis. Beberapa rumah sakit tersebut, lokasinya tidak jauh dari pusat perbelanjaan dan supermal dan perhotelan. Setelah memeriksa kesehatan, pasien dan keluarganya bisa jalan-jalan dan cuci mata atau berbelanja.

Singapura dan Malayasia, sejak lama mengincar pasien Indonesia –terutama kelas menengah atas yang makin sadar soal kesehatan, sebagai target pasar mereka. Sebab, selain penduduknya nomor empat terbesar di dunia, kedekatan geografis serta kebiasaan orang kita yang luar negeri minded. Apalagi, pelayanan kesehatan berkualitas masih mahal. Setiap tahun, jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Singapura dan Malaysia, jumlahnya terus meningkat.

Dikemas dalam bentuk paket wisata sehat, warga Indonesia selain bisa me-meriksa kesehatan, ditawarkan paket menginap di hotel berbintang, diajak pelesiran dan tur keliling kota, atau sekedar cuci mata di pusat perbelanjaan. Raffles Hospital misalnya. Pasien bisa mengunjungi tempat belanja murah meriah di Bugis Village, atau Mustafa Shopping Center yang tak jauh dari rumah sakit itu.

Beberapa rumah sakit di Singapura, seolah berlomba menarik minat pasien dari Indonesia. Sebut saja misalnya Thomson Medical Centre, Pacific Healthcare Holdings, Gleneagles Hospital, Mount Elizabeth Hospital, Mount Alvernia Hospital, dan Singapore General Hospital. Ini belum termasuk berbagai klinik kesehatan dan kecantikan.

Rumah sakit Mount Elizabeth Hospital sangat dikenal oleh warga In-donesia yang pernah berobat ke sana. Malah, seorang supir taksi sampai menyebut rumah sakit yang dikembangkan sejak tahun 1978 ini sebagai “rumah sakit”-nya orang Indonesia.  Rumah sakit tersebut, tidak saling bersaing sesama mereka, tapi saling mengembangkan keunggulan masing-masing.

Misalnya, Thomson Medical Centre memberikan layanan medis dan bedah, seperti pemeriksaan kandungan, penanganan pra dan pascapersalinan, serta pengobatan umum. Thomson bahkan bisa melayani tes sperma dan urusan bayi tabung. Mount Elizabeth terkenal lantaran memiliki PET/CT scanner, alat pemindai yang mampu mendeteksi berbagai jenis kanker sekaligus. Raffles Hospital dikenal sebagai pusat penanganan kanker, tumor, dan berbagai gangguan fungsi jantung.

Parkway Group Healtcare, selain memiliki perwakilan di Batam, memasarkan tiga rumah sakit yang mengelola Mount Elizabeth Hospital, Gleneagles Hospital, dan East Shore Hospital. Jaringan pemasarannya menjangkau beberapa negara dan di berbagai kota di Indonesia memiliki jasa hotline 24 jam.

Raffles Medical Group juga menyiapkan fasilitas layanan medis 24 jam di Bandara Changi, Singapura. Penumpang yang menga-lami capek terbang berjam-jam, bisa dilayani. Mau memermak wajah dan tubuh agar lebih cantik, juga bisa di Pacific Healthcare. Ada yang datang minta dimancungkan hidungnya, ada pula yang minta dibuat belahan pada dagunya.

Malaysia, sama saja. Sejak lama beberapa rumah sakit, terutama di Melaka gencar berpromosi dan menggarap pasien-pasien dari Indonesia. Mulai dari Mahkota Medical Centre (MMC), The Southern Hospital hingga Pusat Perubatan atau Rumah Sakit Pantai.

Di MMC saja, dari total 13.000 pasiennya setiap bulan, sebanyak 3.500 orang berasal dari berbagai kota di Indonesia seperti Batam, Tanjungpinang, Pekanbaru, Jambi, Medan dan Jakarta. Kemampuan dokter dan pelayanan yang diberikan beredar dari mulut ke mulut. Maka, tidak heran, ‘’bilik-bilik’’ hotel dan ‘’rumah tumpangan’’ sekitar MMC selalu penuh. Dalam jarak 300 meter di samping MMC, juga ada Hospital Hotel atau Hostel yang menyediakan ratusan kamar untuk pasien dan keluarganya.

Sebagai pusat pelayanan kesehatan terkemuka di kawasan ini, setiap tahunnya lebih dari 150.000 orang pasien internasional datang ke Singapura untuk mendapatkan berbagai perawatan kesehatan. Ada yang datang  untuk mengecek kesehatan, yang lain untuk melakukan operasi mata, jantung dan otak. Ada juga yang datang untuk pengobatan kanker. Baik keperluan dasar maupun yang kompleks, para pasien dijamin dengan sistim pelayanan kesehatan kelas dunia yang mengutamakan keamanan dan kepuasan.

Selain memberikan pelayanan berkelas, Singapura secara serius mengembangan sektor kesehatan melalui Singapore Medicine. Konsep tersebut bertujuan mengembangkan Singapura sebagai penghubung utama di Asia Pasifik untuk pelayanan kesehatan internasional.

Singapore Medicine yang diluncurkan Kementerian Kesehatan Singapura pun menyebutkan Indonesia sebagai pasar utama di samping Malaysia. Singapura memang tak main-main untuk mewujudkan ambisinya sebagai pusat layanan medis di Asia Pasifik. Singapore Medicine memadukan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan badan-badan terkait seperti Singapore Tourist Board (STB).

Batam berpeluang menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Jasa Kesehatan Internasional. Santer disebut-sebut, KEK Kesehatan akan berlokasi di Sekupang dan menjadikan RSBP sebagai sentralnya. KEK Kesehatan itu mencakup pusat riset dan penelitian penanganan berbagai penyakit, seperti stroke, diabetes, cancer, jantung, spinal, dementia, genetika, stem cell, bio medical innovation, mind control prosthetic research dan lainnya.

Tidak itu saja, KEK Kesehatan juga akan menyediakan industri farmasi, yang meliputi penelitian dan pengembangan insdustri farmasi. Seperti vaccine, blood products, diabetes, jantung, cancer, neurology, HIV, dan lainnya. Selain rumah sakit, juga bakal dibangun hotel dan sarana akomodasi serta pendukung aebagai ekosistem ideal bagi KEK Kesehatan bertaraf internasional. ***

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

LATEST POSTS

Singapura Surga Judi di Asia Tenggara

By Socrates - Perjudian di Singapura dimulai sejak era kolonial Inggris dan dilegalkan tahun 1923. Awalnya, hanya eksperimen. Tapi aibatnya, warga Singapura kecanduan judi. Kejahatan...

Singapura, Kota Impian Wisatawan

By Socrates – Unik. Itulah kata yang pas untuk menggambarkan Singapura. Kata ini pula –Uniquely Singapore– yang dijadikan negara kota itu sebagai city branding menarik...

Lini Masa Sejarah Singapura

By Socrates- Singapura kini menjadi salah satu kota penting di dunia. Kemajuan kota ini, jauh meninggalkan kota terdekatnya, seperti Johor dan Batam. Padahal, jarak Batam...

Singapura, Garden City Terbaik di Dunia

By Socrates – Singapura adalah kota kosmopolitan yang dinamis. Perpaduan beragam budaya dan tradisi Barat dan Timur secara harmonis menjadikan kota ini sungguh unik. Apalagi,...

Most Popular

spot_img