By Socrates – Dalam dunia pendidikan, studi tiru cukup efektif meningkatkan mutu dan layanan pendidikan. Dewan Pendidikan Kota Batam, melakukan studi tiru, tanggal 25 – 28 November 2025 ke Yogyakarta.
“Kami ingin belajar, meniru praktik baik dunia pendidikan di Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar dan kota pendidikan,” kata Ketua Dewan Pendidikan Kota Batam, Dr Fendi Hidayat.
Studi tiru ini, diikuti sebelas anggota Dewan Pendidkan Kota Batam. Yakni, Fendi Hidayat, Dukhroini Ali, Linayati Lestari, Socrates, Sulaeman, Jamil, Martius, Adi Syahputra Purba, Asmawie Nasution, Hidayat dan Zakaria.
Ketua Dewan Pendidikan Kota Yogyakarta Dr Khamim Zarkasih Putro mengatakan, tiap hari Rabu anggota Dewan Pendidikan Yogyakarta, rapat rutin membahas masalah pendidikan. Dewan Pendidikan Yogyakarta tuan rumah Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) IV Forum Dewan Pendidikan kota/Kabupaten se-Indonesia, 7-9 Oktober 2025 silam.
Poin penting Rakornas tersebut, memperkuat sinergi antar lembaga dalam mendukung kebijakan pendidikan nasional, peran aktif dan memperkuat posisi Dewan Pendidikan sebagai mitra strategis pemerintah daerah.
“Dewan Pendidikan Nasional belum ada karena terganjal politisi di DPR RI. Penting dilakukan Rakornas tingkat provinsi. Kalau Pemda komit dengan pendidikan, eksistensi Dewan Pendidikan akan diakui. Tergantung kepala daerahnya, kata Khamim Zarkasih Putro.
Anggaran Minim
Dikatakan Khamim, Dewan Pendidikan Yogyakarta anggarannya minim. Padahal, mengadakan Rakornas membutuhkan biaya cukup besar. Namun, dengan dukungan Wali Kota Yogyakarta, kegiatan tersebut bisa terlaksana dengan baik. ‘’Wali Kota Yogyakarta menyampaikan bahwa kota Yogya minim sumber daya alam. Harapan satu-satunya,  peningkatan sumber daya manusia. Batam dan Yogya harus mengutamakan SDM. Disitulah peran strategis Dewan Pendidikan,” kata Khamim Zarkasih Putro.
Dalam Rakornas tersebut, juga dibahas soal anggaran Dewan Pendidikan di berbagai daerah, termasuk Yogyakarta yang berasal dari dana hibah, yang dianggarkan melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Yogyakarta. Anggaran Dewan Pendidikan tergantung kebijakan kepala daerah masing-masing. Namun, tahun 2026 anggaran Dewan Pendidikan Kota Yogya dimasukkan ke dalam belanja langsung Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Kota Yogyakarta.
Beda dunia pendidikan antara Batam dan Yogyakarta, kata Khamim yang juga dosen Psikologi Pendidikan FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, sekolah swasta di Yogyakarta, baik tingkat PAUD, SD, SMP dan SMA sangat kuat dan lebih unggul dari sekolah negeri.
‘’Orang tua yang ekonominya kuat, cenderung memilih sekolah swasta. Ada sekolah swasta yang harus dipesan beberapa tahun sebelumnya. Saking banyaknya peminat sekolah swasta, malah proses belajar mengajar dijadikan dua shift, pagi dan sore’’ katanya. Selain itu, di tiap jenjang pendidikan, ada forum komite sekolah yang dilantik Dewan Pendidikan.
Berbanding terbalik dengan Batam, setiap tahun ajaran baru, orang tua berbondong-bondong memasukkan anaknya ke sekolah negeri. Meski ruang kelas sudah ditambah, daya tampung sekolah tetap terbatas, karena yang mendaftar jauh lebih banyak daripada daya tampung sekolah.
‘’Dewan Pendidikan selain memberikan saran dan masukan kepada Wali Kota, sebenarnya juga bisa lebih banyak memberi masukan kepada orang tua siswa,’’ kata Khamim Zarkasih Putro. Dewan Pendidikan Yogyakarta juga merekrut staf administrasi sendiri, bukan pegawai Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Yogyakarta.
Tugas Dewan Pendidikan antara lain, melakukan studi, telaah dan kajian penyelenggaraan pendidikan, memberikan masukan dan rekomendasi kepada pemerintah kota dan dinas terkait, memfasilitasi kemitraan antara masyarakat, sekolah dan pemerintah, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan dan kebijakan pendidikan, menyebarluaskan informasi pendidikan kepada masyarakat serta mendukung inovasi pendidikan.
Kegiatan Dewan Pendidikan Kota Yogyakarta antara lain, rapat koordinasi dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, sekolah dan masyarakat. Membentuk forum kemitraan sekolah dan masyarakat, sosialisasi hak dan kewajiban pendidikan sekolah ramah anak, inklusi dan mutu pendidikan, studi komparatif ke daerah lain, pengumpulan data mutu sekolah dan penyusunan laporan rekomendasi, monitoring ke sekolah-sekolah serta penyusunan laporan tahunan dan rekomendasi kebijakan.
Kunjungi BBGTK
Dewan Pendidikan Kota Batam, juga menyambangi Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Daerah Istimewa Yogyakarta, salah satu dari enam BBGTK di Indonesia. Tugasnya adalah, mengembangkan dan memberdayakan guru, kepala sekolah, pendidik lainnya, serta tenaga kependidikan.
Fungsi lembaga ini antara lain, pemetaan kompetensi guru, kepala sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan. Mengembangkan model peningkatan kompetensi. Mengembangkan media pembelajaran. Melaksanakan peningkatan kompetens serta pemantauan dan evaluasi.
‘’Suatu kehormatan bagi kami atas kunjungan Dewan Pendidikan Kota Batam ke BBGTK Yogyakarta. Biasanya, yang datang adalah Dinas Pendidikan dari berbagai daerah, ‘’ kata Kepala BBGTK DIY, Dr. Adi Wijaya, S.Pd., M.A. Ia menyebutkan program prioritas pendidikan saat ini adalah pembelajaran mendalam (indepth learning) kecerdasan artificial dan matematika gembira.
Program inovasi BBGTK Yogyakarta antara lain, pelatihan daring, pemanfaatan area komunitas belajar, short program guru mandiri, adaptif, berjejaring dan unggul, taman numerasi, pelatihan penyusunan aktivitas numerasi serta pendampingan hari belajar guru serta seminar nasional pendidikan Matematika.
PAUD ‘Aisyiyah Nur’Aini
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ‘Aisyiyah Nur’Aini Yogyakarta menjadi agenda kunjungan Dewan Pendidikan Kota Batam, untuk mempelajari model pembelajaran, program parenting dan kemitraan.
PAUD Aisyiyah Nur’Aini Yogyakarta kini menjadi rujukan nasional untuk studi tiru dari berbagai daerah di Indonesia. Awalnya, Aisyiyah Nur’Aini merupakan tempat penitipan anak. Lalu berkembang menjadi TK pada tahun 1982. Sejak tahun 2001 menjadi lembaga pendidikan terpadu.
PAUD Aisyiyah Nur’Aini Yogyakarta dikenal inovatif dan menjadi pelopor pembela-jaran sentra di Yogyakarta dan bahkan Indonesia. PAUD Aisyiyah Nur’Aini memfokuskan pada keunggulan pembelajaran. Lokasinya berdekatan dengan sungai. Halamannya cukup luas dan teduh, ditanami berbagai pepohonan. Sejak dini, anak sudah diajarkan memilah sampah.Â
PAUD unggulan ini, memiliki tiga layanan yakni, Taman Asuh Anak, Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak. ‘’Setiap unit layanan pendidikan, ada kepala sekolah masing-masing,’’ kata kepala sekolah Taman Kanak-kanak, Farida Nur Setiawati SPd.
PAUD Aisyiyah Nur’Aini sudah menerima siswa sejak berusia 3 bulan. Guru-guru dibekali dengan kemampuan merawat bayi. ‘’Guru-guru yang akan mendampingi bayi, kami kursuskan baby sister dulu, sehingga sudah punya ketrampilan bagaimana menstimulasi anak tengkurap, belajar bicara dan belajar berjalan,’’ kata Farida, yang biasa disapa Ibu Ida.
Seperti halnya di kota-kota besar, termasuk Yogyakarta, makin sulit mencari pembantu rumah tangga. Kelas bayi ini ada yang half day dan full day. Biaya pendaftaran program reguler Rp4.550.000, program half day Rp6.450.000 dan program full day biaya pendaftarannya Rp7.450.000,-
‘’Biaya SPP perbulan, sesuai program yang diambil, berkisar dari Rp500 ribu sampai Rp1,1 juta. Kalau untuk di Yogyakarta, sudah termasuk mahal,’’ kata Ida. Fasilitas yang diberikan PAUD percontohan ini lengkap. Seperti, makan siang, snack, bahan pembelajaran habis pakai seperti krayon, spidol, buku gambar, buku cerita, buku materi keagamaan dan pembelajaran.
Siswa PAUD Aisyiyah Nur’Aini juga mendapatkan program parenting, dana sehat Muhammadiyah, ekstra kurikuler angklung, tari, Iqro, dan berenang. Bagi yang mengikuti eskul drumband dan tapak suci, dikenakan biaya tambahan setiap bulan. PAUD ini juga menerima siswa berkebutuhan khusus.
Yang menarik, anak-anak belajar membaca cerita yang ditulis oleh guru mereka sendiri. Guru-guru sudah menulis 18 buku cerita dan selama pandemi menghasilkan 52 buku. Total siswa PAUD Aisyiyah Nur’Aini unit 1 dan unit 2 hanya 152 siswa, karena siswa yang mendaftar dari kelas bayi sampai TK dibatasi.
Bagaimana cara guru mengajar? ‘’Kami membangun sistem sejak tahun 2005 dan semua guru ikut latihan. Kami membuat konsensus, seperti guru berbicara pelan saat anak menyampaikan salam,’’ papar Ida seraya menyebutkan, dibangun habit anak dan guru. Tidak ada anak-anak berteriak dan diajarkan toleransi sejak dini. PAUD ini merupakan sekolah inklusif, menerima anak berkebutuhan khusus, disabilitas, autis bekerja sama dengan psikolog. Pergantian guru yang keluar masuk,  jarang terjadi.
Konsep yang ditawarkan PAUD Aisyiyah Nur’Aini adalah project based learning. Kerja kelompok, sambil bermain. Sejak 2019 anak-anak hanya membaca saja, bukan mendapatkan inspirasi. Para guru membentuk tim, merancang buku cerita dimasukkan ke rancangan pembelajaran, diterbitkan. Agar anak senang membaca.
SD Negeri Lempuyangwangi
Sekolah Dasar Negeri Lempuyangwangi Yogyakarta memiliki visi mewujudkan siswa unggul berwawasan IT, berbudi pekerti luhur, dan memiliki minat baca serta kreativitas yang tinggi. Visi ini diwujudkan melalui program seperti bimbingan belajar yang komprehensif, peningkatan kompetensi guru, dan penciptaan lingkungan sekolah yang kondusif, bersih, dan tertib.
SD Negeri Lempuyangwangi menjadi sekolah dasar yang dimasukkan dalam program studi tiru Dewan Pendidikan Kota Batam. SD Negeri Lempuyangwangi adalah sekolah berprestasi. Antara lain, juara 1 lomba yel-yel gerakan makan buah dan sayur kategori SD tingkat kota Yogyakarta. Setiap Sabtu, menjalankan program gerakan literasi, membaca di sekolah selama 30 menit diikuti semua siswa dan guru.
‘’SD Lempuyangwangi adalah SD percontohan Yogyakarta, sekolah adhiyata mandiri, sekolah ramah anak. Gerakan sekolah sehat, baik lingkungan, fisik, kesehatan dan kejiwaan. Saya selalu memotivasi para guru. Jadilah guru yang luar biasa,” kata Esti Kartini, SPd, Kepala Sekolah SDN Lempuyangwangi.
Jumlah total siswa SDN Lempuyangwangi sebanyak 502 orang. Jumlah siswa satu kelas maksimal 28 orang. Tidak seperti yang terjadi di Batam, ledakan murid saat penerimaan siswa baru, Yogyakarta memiliki Peraturan Wali Kota (Perwali) yang ditindaklanjuti oleh Dinas Pendidikan melalui aplikasi khusus. Ada SPMB online dan non online.
‘’Penerimaan siswa baru, diatur oleh sistem. Kalau siswa melebihi, langsung ditolak, meski ada campur tangan Dinas Pendidikan dan Wali Kota. Kompetisi juga dilakukan berdasarkan umur. Terendah 7 tahun 4 bulan. Kalau sistem ini dilanggar, berarti Wali Kota melanggar aturannya sendiri,’’ kata Esti Kartini, tersenyum.
SD Negeri Lempuyangwangi menerapkan pembelajaran mendalam. Menghias ruang kelas, kerjasama antara wali kelas dengan orang tua, melalui komite sekolah, termasuk melombakan taman sekolah tiap tahun.’’Mengajar kelas 1 itu membutuhkan kesabaran tingkat dewa,” kata Esti Kartini.
SMPN 5 Yogyakarta
Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Yogyakarta, memiliki sejarah yang panjang. Sekolah ini berdiri sejak 1 September 1952. ‘’Nama beken sekolah ini adalah Pawitikra. Kalau ada alumni Pawitikra, berarti alumni SMPN 5 Yogyakarta. Alumninya antara lain Anies Baswedan dan Roy Suryo,’’ kata Siti Ariani Budiasti, MpdBi Kepala Sekolah SMPN 5 Yogyakarta.
Sebelas anggota Dewan Pendidikan Kota Batam, diterima di ruang Pandawa, sekolah itu. ‘’Ada dua hal yang bisa dipelajari di SMPN 5 Yogyakarta, yakni soal lingkungan dan pengelolaan sampah. Serta kegiatan ekstra kurikuler kami selama 5 tahun berturut-turut mendapatkan prestasi BOS Kinerja terbaik nasional dan pernah mendapat predikat sekolah pengembangan talenta terbaik secara nasional,’’ papar Siti Ariani Budiasti.
Menurut Ariani, prestasi itu bisa dicapai berkat kerjasama guru, siswa, orang tua dan komite sekolah. Ada 19 orang siswa yang berkebutuhan khusus. Meski terjadi perubahan pola penerimaan siswa, tahun 2025 SMP Negeri 5 Yogyakarta, terbaik se Daerah Istimewa Yogyakarta. ‘’Sebagai kepala sekolah, saya bekerjasama dengan baik dengan Wakil Kepala Sekolah,’’ katanya.
SMPN 5 Yogyakarta memang bertabur prestasi. Sekolah ini menempati urutan pertama sebagai SMP dengan siswa berprestasi terbanyak di Indonesia dan sudah mengoleksi 388 medali. Tahun lalu juara perpustakaan nasional. Sebab, guru dan siswa menulis buku. Sudah ada 7 judul buku yang dipasarkan di Gramedia. ‘’Saya sudah menulis 13 buku,’’ kata Siti Ariani Budiasti seraya menyebutkan, pentingnya peran alumni dan komite sekolah untuk kemajuan SMPN 5 Yogyakarta.
Yogya Darurat Sampah
SMP Negeri 5 Yogyakarta adalah sekolah menengah pertama sebagai pelopor program “Mas JOS masuk sekolah” yang fokus pada pengelolaan sampah. Mas Jos adalah singkatan Masyarakat Jogya Olah Sampah. Para guru dan siswa bersama-sama pengelolaan sampah di sekolah melalui bank sampah, inisiatif yang didukung oleh pemerintah kota.
Kebijakan Kepala Sekolah SMPN 5 Yogyakarta antara lain, siswa dan guru membawa tempat makan sendiri. Siswa menyediakan tempat sampah mandiri, baik sampah organik, anorganik dan residu. Pilah sampah dilakukan seluruh warga sekolah.
Lomba kebersihan, secara rutin dilakukan. Hasil pilah sampah tiap kelas dikumpulkan di trash centre Pawitikra, setiap hari Jumat. Kantin mengelola sampah mandiri dan menggunakan wadah berulang. Siswa membuat tim penanggulangan sampah yang disebut ZETRA. Sekolah juga bekerja sama dengan pihak ketiga untuk penjualan sampah.
Keterlibatan warga sekolah untuk mengelola sampah ini, patut diacungi jempol. Siswa melakukan pilah sampah mandiri, baik perorangan maupun berdasarkan kelas. Dibentuk kader atau pengurus Zero Trash Pawitikra atau ZETRA. Guru-guru, makan dengan piring dan melakukan pilah sampah kertas dan botol.
Kegiatan ekstra kurikuler SMPN 5 Yogyakarta juga sangat padat dan beragam. Mulai dari pramuka, sosialisasi anti narkoba, sosialisasi penyalahgunaan IT, kader kesehatan, pemilihan OSIS dan MPK, MTQ, Galang Pramuka, Wide Game, Literasi Bulan Bahasa hingga kegiatan olahraga dan agama seperti Peleton Inti, renang, karate, pencak silat, sepakbola dan futsal, basket dan membaca Al-Quran.
‘’Komite Sekolah sangat diperlukan, paguyuban kelas 8 dan yang membersamai orang tua, siswa dan guru sekolah. Komite menjadi mediator. Kami membentuk forum orang tua siswa serta forum siswa. Jadi, hubungan sekolah dengan Komite Sekolah, sangat baik,’’ tutur Siti Ariani Budiasti.
Banyak hal yang dipelajari Dewan Pendidikan Batam selama studi tiru di Yogyakarta. Saat ini, total total satuan pendidikan di Kota Batam 1.117 satuan pendidikan. Jumlah Taman Kanak-kanak (TK) Negeri sebanyak 21 satuan pendidikan, dan TK Swasta sebanyak 458 satuan pendidikan. Jumlah SD Negeri sebanyak 145 dan SD Swasta sebanyak 241 sekolah. Sedangkan SMP Negeri 65 sekolah dan 142 SMP swasta. Pendidikan non formal satu SKB dan PKBM jumlahnya 44 satuan pendidikan. Jumlah guru yang bertugas di sekolah negeri sebanyak 4.560 orang dan jumlah guru di sekolah swasta sebanyak 6.509 orang. Total jumlah guru di Batam sebanyak 11.069 orang. ***


