19.9 C
Indonesia
BerandaPODCASTWartawan Profesional Versus Abal-abal

Wartawan Profesional Versus Abal-abal

-

Wartawan adalah pilihan bebas

Tidak ada alasan wartawan bersungut-sungut, pendapatannya rendah. Sebab, wartawan adalah pilihan bebas dan tidak ada paksaan seseorang jadi wartawan.

Dihargai karena Karyanya

Seorang wartawan dikenal dan dihargai masyarakat karena karya jurnalis-tiknya. Seorang wartawan bukan terkenal karena dia pemimpin di sebuah surat kabar, bukan karena pintar melobi, cari muka, atau pintar berpidato. Seorang wartawan akan dikenal, dihargai dan bermartabat di mata masyarakat karena tulisannya, beritanya, karya jurnalistiknya.

Paham Profesi

Sudah pasti menjadi seorang profesional harus memahami pe-ker-jaannya. Wartawan paham apa straight news, investigative re-porting, indept news, reportase, human interest news, artikel, foto berita, dan grafis yang bernilai berita.

Paham Kebebasan Pers

Kebebasan pers beribu’ demokrasi ‘berbapak’ kebebasan bere-kspresi, mengeluarkan pendapat lisan maupun tulisan’’. Sulit membayangkan pemberan-tasan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) tanpa adanya kebebasan pers.

Paham Berita

Berita bukan fiksi. Berita selalu berdasarkan fakta. Fakta terdiri dari fakta pribadi dan fakta publik. Berita selalu menyangkut fakta publik, bukan fakta pribadi. Fakta publik mencakup fakta empirik dan fakta psikologis.

Orientasi pada Masyarakat

Wartawan doyan berita ‘’kantor pemerintah sentris’’, selalu mengutip pernya-taan pejabat sebagai berita utama, lebih cocok ‘’humas’’ bukan wartawan. Wartawan harus mengetahui masalah kemasyarakatan, pemerintahan, pembangunan, politik, dan kepentingan publik lainnya.

Utamakan Data, Investigasi dan Analisis

Wartawan malu jika beritanya hanya berkisar pada ‘’talking news’’. Harus lebih banyak menyajikan data, doyan melakukan investigasi dan akurat dalam menyajikan analisis sebuah persoalan.

Wajib Edit Ulang

Membaca dan mengedit kembali tulisan/berita yang sudah dibuat adalah keharusan. Ini untuk memastikan apakah berita yang ditulis sudah sesuai penugasan, memenuhi syarat-syarat jurnalistik, tujuan jurnalistik, dan laku dijual. Tidak mengedit ulang dan salah dalam penulisan adalah wartawan ceroboh, pemalas dan suka mencelakakan diri sendiri.

Rajin Rapat dan Diskusi

Dunia liputan jurnalistik, kepentingan publik yang digali warta-wan dan publik itu sendiri terus berkembang setiap saat. Rapat dan diskusi adalah wahana yang terbaik, murah dan cepat bagi wartawan untuk memahami dinamika tersebut, selain itu harus pula rajin, rajin, rajin, dan rajin membaca buku.

Paham UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ)

Harus memahami UU Pers dan KEJ beserta penafsirannya. UU Pers, KEJ dan penafsirannya harus menjadi “buku saku” yang wartawan bawa kemanapun pergi. Lebih baik berita wartawan agak ke-tinggalan daripada tidak cover both side.

Tak Pernah Puas

Dunia, realitas berita, sumber berita, iptek dan seni terus ber-kembang, tak pernah berhenti. Teknik liputan, penulisan dan penggarapan berita juga terus berkembang. Tata letak, perwajahan, grafis, teknologi foto, percetakan dan manajemen penerbitan terus berkembang, tak pernah berhenti sedetik pun.

Tahan Banting

Menjadi wartawan banyak godaan. Yang paling berat adalah ujian untuk mehanan dari jerat kemiskinan. Wartawan boleh miskin materi tapi harus kaya, secara moril.

Berpandangan Positif

Wartawan setiap hari berinterkasi dengan berbagai macam orang dari berbagai lapisan, status sosial, latar belakang, dan kepentingan. Harus melihat siapa saja dari perspektif positif. Wartawan tidak boleh menganggap remeh seseorang, meskipun jelas-jelas dia adalah seorang koruptor, misalnya, atau tersangka narkoba.

Berpikir Kritis

Seorang wartawan tak boleh berhenti berpikir kritis. Ini adalah senjata utama untuk menjadi wartawan. Jika tentara bersenjatakan bedil, wartawan bersenjatakan pikiran kritis (pena, taperecorder, dan komputer hanyalah alat).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

spot_img