By Sultan Yohana – Salah satu hal yang paling saya khawatirkan di era yang sedemikian maju ini, era kecerdasan artifisial atau artificial intelligent (AI), apakah saudara, kerabat, sohib, dan kawan-kawan saya di Indonesia sudah siap menghadapinya? Ketika saya pulang kampung, dan mendapati mata sepupu saya yang berusia 23 tahun, tidak bisa lepas dari game slot di HP-nya, kekhawatiran saya kian meningkat. Ketika saya ngobrol sama keponakan saya yang masih SMP, dan ia tak bisa menjawab ketika saya tanya tentang perang Ukraina; kekhawatiran saya kian membuncah.
Ketika melihat ibu, duduk santai sambil melihat potongan-potongan pendek ceramah agama di Youtube, yang seringkali sangat tendensius; kekhawatiran saya kian menjadi-jadi. Ketika saya mendapati kawan-kawan main saya, sibuk berdebat apakah sound horeg wajib diharamkan atau sebaliknya? Kekhawatiran saya benar-benar memuncak. Belum lagi melihat tingkah laku para ulama, yang lebih memilik sibuk berdoa meminta kekeringan berhenti, namun di saat bersamaan membiarkan hutan-hutan di belakang rumah mereka tertebang serampangan. Apakah mereka telah siap menghadapi jaman AI?
Di hadapan tekhnologi, mungkin saya manusia yang tergolong kolot. Kampungan. Saya tidak terlalu tertarik pada hal-hal berbau tekhnologi terkini. Saya membenci AI sebagai toolls atau alat; karena saya menganggap, itu hanya akan membuat manusia kian malas, kehilangan naluri alamiah, serta kian tergantung pada teknologi yang notabene diciptakan untuk diperdagangkan. Saya tidak pernah tertarik, misalnya, mengubah/mengoreksi foto-foto saya dengan AI. Saya tidak tertarik menulis dengan bantuan AI. Tapi, sebagai manusia yang – kebetulan – tinggal di Singapura, mau tak mau, saya harus selalu bersenggama dengan tekhnologi terkini. Salah satunya dengan AI.
AI sebagai sistem, memang sudah lama menjadi perhatian khusus pemerintah Singapura. Tahun lalu, misalnya, istri saya mengikuti kursus pelatihan AI yang diadakan pemerintah, dan terbuka untuk umum. Menariknya, kata istri, kebanyakan pesertanya justru warga Singapura lanjut usia. Ini bisa dimengerti. Mengingat populasi warga lanjut usia sangat tinggi, yakni 21.4 % (https://www.population.gov.sg/our-population/population-trends/longevity/), dan pada tahun 2035, diperkirakan 1 dari empat penduduk Singapura, berusia 65 tahun ke atas. Mereka, para lansia itu, yang secara de facto masih menjadi “pemilik” Singapura, kudu terbiasa hidup dengan sistem kecerdasan artifisial.
Generasi Singapura lebih muda, seperti dua anak saya, lebih mudah menerima dan menguasai AI, baik sebagai tools maupun sistem. Karena mereka wajib mempelajarinya di sekolah-sekolah. Juga, pelan namun pasti, AI disuntikkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Singapura. Contoh paling sederhana misalnya, saya tak perlu lagi repot-repot membuat diskripsi dagangan saya di Carousell, karena begitu mengupload foto, sistem marketplace paling maju di Singapura itu, bisa segera mengidentifikasi produk yang saya jual.
Meski, di banyak hal, tentu saja, saya harus mengoreksi dan cawe-cawe mengenai detil dan “kebodohan” AI itu sendiri. Begitu seorang membeli, sistem juga segera menyambungkannya dengan perusahaan ekspedisi yang akan mengambil barang yang dibeli. Saya tinggal membungkus dan menunggu kurir datang di rumah. Pembayaran pun, semuanya sudah terintegrasi dengan begitu mudah. Pendek kata, satu klik, semua urusan saya selesai. Saya bahkan tak perlu tahu siapa pembelinya, dan sama sekali tak berdiskusi atau ngobrol dengannya.
Di banyak urusan administrasi kependudukan, komunitas, mencari alamat (map), keanggotaan perpustakaan, teknologi terapan atas alat-alat kebutuhan hidup harian, dls; AI juga telah melakukan penetrasinya. Perlahan namun pasti. Saya, sebagai orang yang tinggal di Singapura, mau tak mau harus ada di sistem tersebut. Atau setidaknya, tidak gagap dengan perubahan. Pelan namun pasti, di Singapura, robot-robot juga telah mengambil-alih peran manusia. Peran sekuriti, peran cleaning servis, peran transportasi publik; kini sudah mulai dikerjakan oleh robot/AI.
Membayangkan bagaimna AI sebagai sistem, bekerja langsung untuk “mempermudah” hidup manusia, itu memerlukan begitu banyak konektifitas, kreatifitas, kecerdasan asli manusia sendiri, sistem keamanan, serta kesiapan infrastrukturnya. Terpenting dari semua itu, ada upaya riil pemerintah untuk mempersiapkan segala sesuatunya, terutama manusianya, dalam menghadapi perubahan jaman yang segera (sudah) terjadi.
Menghadapi Era AI
Sebagai orang yang tinggal di Singapura, tidak banyak kekhawatiran saya dalam menghadapi era AI. Ibarat mengarungi laut dengan kapal layar, ketika kita tahu kapal menyediakan pelampung, alat komunikasi yang bisa dihubungi untuk meminta bantuan, serta ada tim penyelamat yang selalu sigap datang dengan cepat; kita tak lagi khawatir untuk berlayar. Dan saya belum melihat semua kesiapan itu pada saudara, kerabat, sohib, dan kawan-kawan saya di Indonesia.

Sebagaimana kekhawatiran banyak orang, AI sebagai sistem, memang bisa sangat berbahaya jika itu diterapkan pada masyarakat yang belum siap. Itu bisa mengubah hidup Anda dalam sekejab. Anda harus benar-benar segera menyiapkan diri Anda secara mandiri! Mencari tahu apa saja tentang AI. Karena saya tahu, pemerintah Anda hanya sibuk memikirkan siapa yang akan berkuasa pada 2029 saja. Sekali lagi, Anda harus benar-benar khawatir dengan zaman AI ini!
(Penulis mantan wartawan, pengamat sosial politik, pedagang dan tinggal di Singapura)

