27.9 C
Indonesia
BerandaINDEPTH NEWSBatam Darurat Air Bersih

Batam Darurat Air Bersih

-

By Socrates – Sejak dua tahun terakhir, Batam mengalami krisis air bersih. Warga Batam menyampaikan keluh kesahnya kepada Wali Kota Batam ex-officio Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Batam ex-officio Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, melalui komentar di akun media sosial mereka.

Saat demo warga Tanjungsengkuang akibat krisis air bersih 22 Januari 2026, Amsakar Achmad mengatakan, ada 18 stress are atau wilayah yang mengalami krisis air. Tekanan air sangat kecil, air hanya mengalir tengah malam sampai dini hari, atau bahkan mati total dalam durasi cukup lama.

Warga Sambau juga melakukan aksi protes karena pasokan air bersih ke rumah-rumah warga, mati total, 5 Oktober 2026. Warga Bakau Serip, Sambau dan Nongsa turun ke jalan, membawa ember dan galon. Warga berteriak-teriak agar air bersih mengalir. Mereka juga mempertanyakan, mengapa air ke kawasan Nongsa Digital Park tetap lancar.

Mengapa Batam kini mengalami krisis dan darurat air bersih? ‘’Habibie berpesan, bangun Batam mulai kebutuhan dasar, seperti air dan listrik. Kita tidak boleh kekurangan air. Kota-kota yang kurang berkembang disebabkan karena tidak punya air bersih yang dimenej dengan baik,’’ kata Mustofa Widjaja, Ketua Otorita Batam dan Kepala BP Batam periode 2005 sampai 2016.

Pada masterplan pertama, kata Mustofa Widjaja, pembangunan waduk terakhir adalah dam Duriangkang, yang diproyeksikan memenuhi kebutuhan 600.000 sampai  1 juta penduduk. ‘’Penduduk terus bertambah. Makanya, kita bangun Dam Tembesi atas masukan konsutan,’’ ujar Mustofa.

Dam Tembesi mulai beroperasi 2016. Pimpinan BP Batam berikutnya tidak mengurus dan membangun waduk, karena secara politis, tidak populer. Masuknya investasi data centre ke Batam yang membutuhkan suplai air dan listrik dalam jumlah besar, menurut Mustofa Widjaja tentu sudah diantisipasi pimpinan BP Batam saat ini. ‘’Setiap investasi yang masuk, tentu sudah dihitung untung ruginya, baik untuk Batam, maupun secara nasional,’’ katanya.

Mengapa dua tahun terakhir kondisi pelayanan air bersih di Batam makin parah? Menurut mantan Presiden Direktur PT Adhya Tirta Batam (ATB) Ir Benny Andrianto Antonius, M.M, selama dua tahun terakhir terjadi peningkatan permintaan, sementara cadangan air baku tetap, dan kebocoran makin besar. ’’Belum lagi sistim distribusi tidak efisien, makin mempertaruhkan pelayanan air bersih di Batam,’’ kata Benny.

Data yang diperoleh Socreative Media, saat pelayanan air bersih dikelola PT Adhya Tirta Batam (ATB) hingga November 2020 saat konsesi berakhir, mencapai 289.815 pelanggan. Setelah operator air bersih diganti, jumlah pelanggan Air Batam Hilir (ABH) mencapai 342.253 pelanggan per 31 Januari 2026 atau bertambah 52.438 pelanggan atau 18,09 persen. Seorang pengusaha yang enggan ditulis namanya dan memerlukan air dalam kapasitas besar untuk bisnisnya mengatakan,’’ Mengganti ATB dengan operator lain mengelola air bersih di Batam adalah tindakan bodoh,’’ katanya.

Inilah beberapa wilayah yang termasuk stress area dan rawan krisis air bersih di Batam antara lain, Batuampar, Bengkong, Tanjung Sengkuang, Sengkuang, Bengkong Palapa, Bengkong Nusantara, Nongsa, Sambau, Batu Besar, Kabil, Batu Aji, Sagulung, Sagulung Baru, Marina, Tanjung Uncang, Tiban Kampung, Tiban Indah dan Tanjung Riau.

11 Data Centre dan SWRO

Sejak dua tahun terakhir, investasi data centre mulai melirik Batam. Ada sebelas data centre yang bakal di bangun di Batam, khususnya di Kabil dan Nongsa. Untuk menunjang kebutuhan data centre, BP Batam mendorong pembangunan instalasi teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau desalinasi air laut.

Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan, setiap investasi data centre wajib membangun instalasi SWRO untuk kebutuhan operasionalnya. “Kita ingin investasi tumbuh, tetapi kebutuhan pendukungnya juga harus dipikirkan. Karena itu, industri yang membutuhkan air dalam jumlah besar, kita dorong mereka memiliki sumber air sendiri melalui teknologi SWRO,” kata Amsakar Achmad.

Batam disebutkan, dalam dua hingga tiga tahun mendatang diproyeksi akan memiliki peningkatan kapasitas produksi air melalui SWRO sebanyak +- 750 liter/detik pada tahap awal dan terus meningkat pada tahap berikutnya mencapai +- 1.000 liter/detik melalui pembangunan SWRO di dua Kawasan tersebut, yaitu KEK Nongsa dan Kawasan industri Kabil.

Menurut Benny Andrianto Antonius, data centre membutuhkan air yang banyak. Batam diperkirakan akan memiliki data centre yang membutuhkan sedikitnya air 640 liter/detik. ’’Waduk-waduk di batam untuk kebutuhan pokok warga Batam saja kurang, apalagi mau dipakai untuk data centre. Tahun ini bakal ada El Nino hingga Januari 2027. Penggunaan air dam hanya akan membuat kondisi makin buruk. Untuk keperluan selain kebutuhan pokok, wajib pakai SWRO,’’ papar Benny.

Dikatakan Benny, dari awal air dam di Batam tidak didesain untuk keperluan lain selain kebutuhan pokok warga Batam. ‘’Pilihan akhir ditangan BP Batam, mau bisnis lancar, masyarakat terlantar, atau sebaliknya. Hujan bakal berkurang, air waduk akan surut. Jadi mulai hemat air. Batam tidak memiliki masterplan ketersediaan air. Ke depan, ini bakal menjadi masalah besar,’’ ujarnya, mengigatkan.

Niai investasi SWRO skala menengah Rp 155 Miliar – Rp 280 Miliar, skala besar mencapai Rp 700 Miliar – Rp 1,1 Triliun dan skala mega dengan kapasitas produksi 100.000 m3 per hari antara Rp 1,25 Triliun – Rp 2 Triliun.

Menurut Dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB), Ir. Poetro Lebdo Sambegoro, air menjadi salah satu media yang umum digunakan dalam sistem pendinginan data center.

Menurut Poetro, perangkat elektronik dalam jumlah besar yang berada di dalam data center akan menghasilkan panas saat beroperasi. Jika suhu terlalu tinggi, perangkat dapat mengalami gangguan bahkan kerusakan. “Data center adalah kumpulan komputer-komputer yang jumlahnya ribuan yang diletakkan di suatu ruangan atau gedung dan menghasilkan panas. Karena itu, panas dari perangkat elektronik tersebut perlu dipindahkan menggunakan sistem pendingin. Air dapat digunakan sebagai media karena memiliki kemampuan pendinginan yang relatif tinggi dan mudah diperoleh dalam jumlah besar,” kata Poetro.

Ada beberapa desain sistem pendinginan. Yakni, sistem closed loop, yakni panas dari perangkat elektronik dipindahkan ke fluida pendingin, lalu panas tersebut dilepaskan ke udara dengan sistem pendingin udara. Ada juga sistem menara pendingin, air dialirkan dan dipancarkan dari bagian atas menara sehingga sebagian air menguap dan membawa panas ke lingkungan. ‘’Makin besar data centre-nya, listriknya makin besar, panas yang dihasilkan semakin besar, sehingga jumlah air untuk mendinginkan jadi semakin besar,” jelasnya.

Dari penelusuran Socreative Media, saat pembangunan data centre akan dimulai di kawasan Nongsa, pengelola Kawasan Ekonomi Khusus ini sudah mengajukan permohonan izin untuk membangun SWRO, tapi izinnya tidak kunjung keluar. Yang dilakukan BP Batam saat dipimpin Muhammad Rudi adalah, menyambung pipa air dari dam Duriangkang langsung ke Kawasan Nongsa Digital Park.

Itulah sebabnya, saat permukaan air waduk Nongsa menyusut, berdampak langsung ke warga sekitar. Seorang pengusaha yang enggan ditulis namanya mengatakan, saat ini pengusaha juga keberatan dengan permintaan BP Batam, membangun teknologi SWRO untuk data centre sistim Build Over Transfer (BOT) dan investor menolak. ***

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

spot_img