By Socrates – Krisis air bersih yang mengancam Batam, tidak hanya karena kemarau dan El Nino, pertambahan penduduk, tingkat kebocoran air relatif tinggi, juga karena tidak ada penambahan air baku sejak Dam Tembesi beroperasi. Perlu investasi awal Rp500 Miliar memasang pipa air dari Lingga ke Batam.
Kajian mengalirkan air terjun Jelutung dari Lingga ke Batam melalui pipa bawah laut, sudah dibahas para pakar sejak tahun 2017 silam, atau sembilan tahun yang lalu. Tapi, realisasinya sampai tahun 2026 ini, tidak ada. Penyaluran air baku dari Lingga ke Batam tersebut, bisa untuk mengatasi kekurangan air baku di Batam.
Selama ini, Batam sangat tergantung pada delapan waduk tadah hujan. Namun, hanya enam waduk yang bisa menyuplai kebutuhan air warga dan industri. Waduk-waduk tersebut adalah, Dam Baloi dibangun 1977 dan ditutup 2012 karena tercemar parah dan dipenuhi eceng gondok. Dam Sei Harapan dan Dam Nongsa, dibangun 1978 untuk menyuplai air kawasan Sekupang dan Nongsa.
Waduk keempat Dam Sei Ladi dibangun tahun 1985, lalu Dam Mukakuning tahun 1989 dan mulai beroperasi tahun 1991. Waduk keenam Dam Duriangkang, direncanakan selesai 1995 tapi molor sampai 1997 dan menenggelamkan sebuah kampung. Dam Du-riangkang adalah dam terbesar di Batam dan menyuplai 70 persen kebutuhan air bersih warga Batam.
Waduk ketujuh Dam Tembesi yang dibangun sejak tahun 2008, dan baru  bisa digunakan 2016 untuk menambah suplai air baku. Dam Duriangkang dan Dam Tembesi merupakan dam estuary,  bendungan semi tertutup, perairan pesisir tempat bertemunya aliran air tawar dari sungai dan air asin dari laut bebas, sehingga perlu waktu dari air asin menjadi air tawar, melalui proses pembilasan (flushing).
Satu lagi,  waduk ke delapan waduk Sei Gong di Kecamatan Galang, tapi belum beroperasi. Dam Sei Gong mulai dibangun 2015 dan konstruksinya selesai 2018 dan tahap  awal air (impounding) dan peresmian pengoperasiannya 19 Juli 2019. Air baku dari bendungan ini, difungsikan untuk menambah ketersediaan pasokan air bersih di Batam dan sekitarnya.
 Air Terjun Jelutung Lingga
Kajian dan diskusi menyalurkan air baku dari Lingga ke Batam, sudah dibahas sejak 2017 melalui sistem perpipaan bawah laut. Â Pemkab Lingga dan BP Batam sudah melakukan penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) pada Maret 2017 lalu. Tapi, entah mengapa belum terealisasi.

Konsep ini ditawarkan Alias Wello, Bupati Lingga saat itu, untuk mengatasi kekurangan air baku di Batam. Diskusi diikuti sejumlah pakar air dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) Kementerian PUPR, Universitas Gadjah Mada (UGM), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan ahli perpipaan bawah laut Ing Alex Agung Mardwiyanto.
Gubernur Kepri saat itu, Nurdin Basirun juga membahas potensi air terjun Jelutung yang bisa disuplai ke Batam. Saat itu, hadir Menteri PUPR, Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo, Bupati Lingga Alias Wello serta Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad yang kini menjabat Wali Kota Batam dan Kepala BP Batam.
Menurut Alias Wello, Lingga memiliki belasan air terjun dari pegunungan yang mengalir tak henti – hentinya sepanjang tahun. Bahkan, terbuang sia – sia ke laut. Ia menawar-kan konsep penyaluran air baku dari Lingga ke Batam dan sekitarnya melalui sistem perpipaan bawah laut. Selain Batam, Tanjungpinang, dan Bintan juga kekurangan air.
Alex Agung Mardwiyanto  berpengalaman menangani penyaluran gas melalui pipa bawah laut dari Natuna ke Singapura yang jaraknya mencapai 500 kilometer. Menurut Alex Agung Mardwiyanto, biaya investasi awal untuk pemasangan pipa air bersih dari Lingga ke Batam sepanjang sekitar 100 kilometer diperkirakan mencapai Rp500 miliar.
Kabupaten Lingga memiliki 12 air terjun yang bersumber dari aliran pegunungan dan mengalir sepanjang tahun. Seperti air terjun Resun, Jelutung, Sembilan, Ranoh, Tande, Batu Ampar, Cik Latif, Makunggal, Pak Mentoh, Titi Membulan, Lubuk Belanda dan Kolong Batu.
Air Terjun Jelutung  yang terletak di Desa Mentuda, Kecamatan Lingga, dikenal sebagai air terjun tertinggi di Kepulauan Riau dengan ketinggian sekitar 430 meter di atas permukaan laut. Airnya sangat murni dan dinilai sebagai salah satu sumber air minum dengan kualitas terbaik di Indonesia.
Air terjun Jelutung diperkirakan dapat memroduksi 6.000 liter per detik. Angka tersebut diperoleh berdasarkan pengukuran debit sesaat oleh Dr. Ir. Arie Herlambang, MS, pakar air dari Pusat Teknologi Lingkungan BPPT Â tanggal 11 Mei 2017. Â Dari pengukuran itu, juga diperoleh informasi bahwa air terjun Jelutung memiliki Total Dissolved Solid (TDS) 3 ppm. Angka TDS 3 ppm ini menunjukkan bahwa air terjun Jelutung masuk kategori air layak minum, salah satu kualitas terbaik di Indonesia.
Secara teknis, penyaluran air bersih dari Pulau Lingga ke Pulau Batam dapat dilakukan melalui sistem perpipaan bawah laut. Sebagai pembanding, pemasangan pipa gas bawah laut dari Natuna ke Singapura dapat dilakukan dalam jarak sekitar 500 kilometer. Sedangkan pipa dari Lingga ke Batam hanya 100 kilometer.
Sumber air sudah ada. Kesepakatan antara Kepala BP Btam dengan Bupati Lingga, juga sudah pernah ada. Tinggal mengeksekusi keputusan penyambungan pipa dari air terjun Jelutung ke Batam. Bisa dilakukan oleh SPAM BP Batam atau diserahkan ke swasta. Toh, Batam adalah kota pertama yang melakukan swastanisasi pengelolaan air bersih di Indonesia. Rasanya, kerjasama antara Batam dan Kabupaten Lingga ini akan lebih mudah. Sebab, Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra keduanya berasal dari Kabupaten Lingga.
Revitalisasi waduk adalah harga mati untuk masa depan Batam. Antara lain, mengeruk bagian yang dangkal, memasang sediment trap untuk menjaga pencemaran dan air yang masuk tidak membawa pasir dan lumpur serta menjaga daerah tangkapan air dari penebasan hutan, perkebunan dan keramba ikan.
Kerusakan lingkungan akibat pembabatan hutan, pembalakan liar, tambang pasir ilegal, pemberian alokasi lahan perumahan dekat waduk sehingga tercemar limbah rumah tangga, ketidakpedulian masyarakat terhadap lingkungan dan daerah tangkapan air (cachtment area) menjadi daftar panjang, menurunnya kuantitas dan kualitas air baku di Batam.
Sedimentasi juga berpengaruh terhadap operasional dan umur berfungsinya waduk. Kapasitas tampung waduk akan berkurang dengan adanya sedimentasi. Penyebabnya antara lain, erosi dan ekploitasi lahan di kawasan tangkapan air. ***

